
Detail | |
|---|---|
Judul | The Return of the Young Prince |
Pengarang | A.G. Roemmers |
Penerbit | Inner Ocean Publishing |
Deskrpsi | RESENSI MINGGU I BULAN FEBRUARI 2026 Oleh: Prescella J Pelupessy.,S.Pd.,M.T Pustakawan Ahli Madya Sinopsis Singkat The Return of the Young Prince merupakan sekuel spiritual dari The Little Prince karya Antoine de Saint-Exupéry. Dalam novel ini, A.G. Roemmers menghadirkan kembali sosok Pangeran Kecil yang kini “kembali” ke bumi dan bertemu dengan seorang pria dewasa—narator cerita—dalam sebuah perjalanan menuju pegunungan Andes. Sepanjang perjalanan, sang Pangeran Kecil mengajukan pertanyaan-pertanyaan sederhana namun mendalam tentang kehidupan manusia: tentang cinta, penderitaan, iman, kekuasaan, ketakutan, dan makna kebahagiaan sejati. Dialog antara keduanya menjadi ruang refleksi batin bagi pembaca. Ulasan dan Analisis Buku ini tidak menawarkan konflik besar atau alur yang rumit. Kekuatan utamanya justru terletak pada dialog reflektif dan pesan filosofis yang disampaikan dengan bahasa sederhana namun menyentuh. Roemmers berhasil menjaga “roh” kepolosan dan kebijaksanaan Pangeran Kecil, sambil membawanya ke konteks dunia modern yang penuh kegelisahan, krisis makna, dan kekosongan spiritual. Tema spiritualitas dalam buku ini sangat kuat, namun disampaikan secara inklusif—tidak terikat pada agama tertentu. Pembaca diajak merenungkan kembali relasi dengan Tuhan, sesama manusia, dan diri sendiri. Banyak kutipan dalam buku ini yang terasa seperti nasihat lembut bagi jiwa yang lelah. Namun demikian, bagi pembaca yang mengharapkan cerita dengan dinamika plot yang kuat, buku ini mungkin terasa lambat dan terlalu kontemplatif. Buku ini lebih cocok dibaca perlahan, bahkan diulang, agar maknanya benar-benar meresap Kelebihan Buku
Kekurangan Buku
Kesimpulan The Return of the Young Prince adalah buku reflektif yang mengajak pembaca untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia dan kembali bertanya tentang makna hidup yang sesungguhnya. Buku ini sangat direkomendasikan bagi pembaca yang sedang mencari ketenangan batin, penguatan iman, atau sekadar ingin berdialog dengan nurani sendiri. “Hal-hal terpenting dalam hidup tidak dapat dilihat dengan mata, tetapi dirasakan dengan hati.”
|