
Detail | |
|---|---|
Judul | THE GIRL WHO WROTE LONELINESS |
Pengarang | Kyung- Sook Shin |
Penerbit | Tahun Terbit : 2018 |
Deskrpsi |
Resensi Buku ” The Girl Who Wrote Loneliness” oleh Penulis : Kyung- Sook Shin Genre : Novel Tahun Terbit : 2018
Isi cerita singkat: Cerita bermula dari seorang gadis remaja yang meninggalkan kampung halamannya karena keluarganya sangat miskin sehingga tak mampu mengirimnya sekolah. Dia pergi ke Seoul, bekerja di pabrik elektronik siang hari, dan belajar di sekolah malam dengan ambisi menjadi seorang penulis. Kehidupan di Seoul di era 1970-an itu keras: gajinya kecil, jam kerja panjang, lingkungan tempat tinggal yang sempit, dan kondisi sosial yang menekan. Sebagai latar, Shin menggunakan latar belakang sejarah nyata: urbanisasi cepat di Korea, kondisi buruh di pabrik, dan bagaimana kaum migran muda dari desa dianggap kelas terbawah di masyarakat kota. Kelebihan:
Karena cerita mengambil banyak elemen dari pengalaman pengarang sendiri, naratornya terasa sangat nyata dan menyentuh. Pembaca bisa merasakan kerinduan, penderitaan, kesepian, sekaligus harapan.
Shin sangat berhasil menggambarkan kerasnya kondisi hidup sebagai buruh wanita muda di kota: rumah sempit, suasana kerja yang melelahkan, identitas yang samar, dan bagaimana kesepian menjadi bagian dari hidup sehari-hari.
Ada keseimbangan antara narasi yang melankolis dan detail-detail kehidupan yang konkret. Gaya bahasa sering melayang, punya unsur nostalgia, bayangan masa lalu, tapi tetap menempel pada realitas kehidupan yang keras.
Buku ini bukan hanya kisah pribadi tapi juga potret keadaan sosial Korea di masa transisi: bagaimana masyarakat dibangun kembali dari perang, pembangunan ekonomi, dan bagaimana utamanya kaum muda serta perempuan menjadi bagian yang rawan dalam proses tersebut. Kekurangan:
Karena banyak pengulangan suasana, frasa, dan refleksi, terkadang pembaca bisa merasa cerita melambat atau “berulang-ulang”. Bagi yang suka cerita cepat atau plot yang sangat maju, mungkin akan terasa berat.
Ada bagian di mana karakter, terutama “aku” sebagai narator muda, kadang seperti samar atau sulit dibedakan, karena Shin sengaja menggunakan identitas yang tidak selalu eksplisit. Ini bisa membuat hubungan emosi pembaca terhadap karakter agak terdistorsi jika bukan pembaca yang suka interpretasi bebas.
Karena banyak elemen penderitaan dan kesendirian, suasana hati yang dihadirkan bisa sangat berat. Jika pembaca kurang siap dengan konten emosional yang intens, ada kemungkinan cerita terasa menyesakkan. Kesimpulan: |